Kamis, 17 April 2014

HUTANG TIDAK MENGHALANGI WAJIB ZAKAT

Si A memulai usaha dagang dengan modal Rp. 70.000.000, semua modal itu adalah uang pinjaman
(utang). Ia mengalami kerugian sehingga pada akhir tahun uangnya hanya tinggal 50.000.000. Wajibkah ia membayar zakat.

1. Dalam kasus ini, tidak terjadi perbedaan pendapat antara Ibn    Hajar dan Muhammad Ramli (Tufhah dan Nihayah).
2. Dalam kasus ini terjadi khilaf Qaul.
a. Azhar: Ia wajib membayar zakat 1/40 (2,5%) dari 50.000.0000. karena dalil masalah zakat mutlak (termasuk orang yang punya hutang dan orang yang tidak punya hutang).
b. Tsani: tidak wajib membayar zakat, karena diqiyaskan kepada masalah Haji.
c. Tsalis: Wajib pada harta yang zahir tidak wajib pada harta yang bathin, seperti tijarah dll.
Berikut saya kutip tek kitabnya.
Tufhah al-Muhtaj, juz, 3. hal. 337.
(وَلَا يَمْنَعُ الدَّيْنُ) الَّذِي فِي ذِمَّةِ مَنْ بِيَدِهِ نِصَابٌ فَأَكْثَرُ مُؤَجَّلًا أَوْ حَالًّا لِلَّهِ تَعَالَى أَوْ لِآدَمِيٍّ (وُجُوبَهَا) عَلَيْهِ (فِي أَظْهَرِ الْأَقْوَالِ) لِإِطْلَاقِ النُّصُوصِ الْمُوجِبَةِ لَهَا وَلِأَنَّهُ مَالِكٌ لِنِصَابٍ نَافِذِ التَّصَرُّفِ فِيهِ وَلَوْ زَادَ الْمَالُ عَلَى الدَّيْنِ بِنِصَابٍ وَجَبَتْ زَكَاتُهُ قَطْعًا كَمَا لَوْ كَانَ لَهُ مَا يُوفِيهِ غَيْرَ مَا بِيَدِهِ وَالثَّانِي يَمْنَعُ مُطْلَقًا (وَالثَّالِثُ يَمْنَعُ فِي الْمَالِ الْبَاطِنِ وَهُوَ النَّقْدُ) الْمَضْرُوبُ وَغَيْرُهُ وَمِنْهُ الرِّكَازُ (وَالْعَرْضُ) وَزَكَاةُ الْفِطْرِ

Nihayah al-Muhtaj, juz, 3. hal. 132.
(وَلَا يَمْنَعُ الدَّيْنُ وُجُوبَهَا) حَالًّا كَانَ أَوْ مُؤَجَّلًا مِنْ جِنْسِ الْمَالِ أَمْ لَا لِلَّهِ تَعَالَى كَزَكَاةٍ وَكَفَّارَةٍ وَنَذْرٍ أَوْ لِغَيْرِهِ وَإِنْ اسْتَغْرَقَ دَيْنُهُ النِّصَابَ (فِي أَظْهَرِ الْأَقْوَالِ) لِإِطْلَاقِ الْأَدِلَّةِ وَلِأَنَّ مَالَهُ لَا يَتَعَيَّنُ صَرْفُهُ إلَى الدَّيْنِ، وَالثَّانِي يَمْنَعُ كَمَا يَمْنَعُ وُجُوبَ الْحَجِّ (وَالثَّالِثُ يَمْنَعُ فِي الْمَالِ الْبَاطِنِ وَهُوَ النَّقْدُ) أَيْ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَضْرُوبًا وَالرِّكَازِ (وَالْعَرَضِ) وَزَكَاةِ الْفِطْر

3. Bila terjadi perbedaan pendapat antara Ibn Hajar, Muhammad Ramli dan imam-imam mu’tabar lainnya, untuk amal linafsih boleh dipilih satu di antaranya.

4. Bila bertentangan pendapat Ibn Hajar dengan Muhammad Ramli, untuk ifta’ bagi qadhi yang ahli tarjih wajib mengifta’ dengan yang raajih I’ndah. Bagi Qadhi yang tidak ahli boleh ifta’ dengan salah satu diantara keduanya.
Lihat al-Fawaid al-Madaniyah fii man yufta bi qaulihi min aimmah as-Syafi’iyyah, hal. 55 – 56.

Maaf belum bisa saya sertakan teknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar