Rabu, 01 April 2015

I’TIQAD LIMA PULUH SOLUSI MEMUDAHKAN PEMAHAMAN AQIDAH UMAT

Oleh Tgk. Taufiq Yacob, S. Pd. I

            Baginda Rasulullah. Saw telah mengingatkan kita sebagai umat yang sangat beliau cintainya bahwa di akhir masa pengikutnya akan berpecah dalam persoalan aqidah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya adalah sesat kecuali satu golongan yaitu golongan ahlu sunnah wal jama’ah.
عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ليأتين على أمتي ما أتى على بني إسرائيل حذو النعل بالنعل حتى إن كان منهم من أتى أمه علانية لكان في أمتي من يصنع ذلك وإن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة قالوا ومن هي يا رسول الله قال ما أنا عليه وأصحابي ( رواه الترمذى )
Artinya:
“Dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah saw bersabda: “Akan datang atas umatku apa yang telah datang atas Bani Israil sejengkal demi sejengkal, hingga jika diantara mereka ada yang menzinahi ibunya secara terang-terangan maka di umatku juga akan ada yang melakukannya, dan sungguh Bani Israil itu telah terpecah menjadi tujuh puluh dua agama (aliran), dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga agama, semuanya masuk neraka kecuali satu agama.” Para sahabat bertanya: agama apa itu wahai Rasulullah?, Beliau menjawab: “Apa yang aku dan para sahabatku berpijak di atasnya.” (HR. At-Tirmidzi).
            Aqidah ahlu sunnah wal jama’ah menurut persaksian para ulama adalah faham asy-‘Ariyah dan Maturidiyah karena itulah aqidah yang sesuai dengan pemahaman salafussalih sebagai warisan dari rasulullah. Saw dan dianut oleh para sahabatnya yang merupakan ahli qurun terbaik setelah rasulullah. Saw wafat.
            Salah satu inti dari a’qidah ahlu sunnah wal jama’ah adalah menguasai I’tiqad lima puluh, sehingga orang yang tidak menguasai I’tiqad lima puluh dinyatakan tidak sah imannya. I’tiqad lima puluh merupakan ringkasan dari sekian banyak keyakinan yang wajib diyakini oleh setiap mukallaf.
            Adanya rumusan aqidah dalam bentuk I’tiqad lima puluh bukanlah untuk membatasi sifat-sifat Allah, karena dalam aqidah ahlu sunnah wal jama’ah setiap mukallaf wajib meyakini bahwa seluruh sifat kesempurnaan wajib ada pada Allah dan segala sifat kekurangan mustahil ada pada Allah. I’tiqad lima puluh itu merupakan batas minimal dari poin-poin aqidah yang wajib diketahui oleh setiap mukallaf.
            Dengan adanya rumusan I’tiqad lima puluh seorang mukallaf dengan mudah dapat mempelajari inti-inti dari aqidah tanpa harus mengkaji al-qur’an secara kesuluruhan dan tanpa harus mencari sendiri hadis-hadis yang membicarakan tentang aqidah. Dengan demikian I’tiqad lima puluh merupakan sulusi untuk memudahkan aqidah umat.
            I’tiqad lima puluh tidak pernah dikenal di masa Rasululullah. Saw dan para penerusnya sehingga Imam Abi Hasan al-Asy’ari merumuskannya berdasarkan dalil-dalil yang terdapat dalam al-Qur’an, dengan demikian I’tiqad lima puluh adalah rinkasan dari aqidah yang diajarkan oleh rasulullah. Saw dan dianut oleh para sahabaatnya karena aqidah yang dianut oleh para sahabat adalah sesuai dengan petunjuk yang ada dalam al-qur’an dan sunnah.
Bukan hanya I’tiqad lima puluh, istilah Firqah ahlu sunnah wal Jama’ah juga tidak dikenal sebelum itu sehingga Imam Abi Hasan al-Asy’Ari dinyatakan sebagai pendiri aqidah ahlu sunnah wal Jama’ah. Sebenarnya beliau bukanlah pendiri aqidah ahlu sunnah wal jama’ah karena bila beliau sebagai pendirinya, sama dengan sebelum itu tidak ada aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Beliau adalah orang yang pertama merumuskan dan membukukan aqidah ahlu sunnah wal jama’ah yang dianut oleh para sahabat dan para ulama salaf seperti Imam Abi Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hambal, Sufyan Tsuri dan ulama-ulama besar lainnya.
            Di antara kitab-kitab be­liau yang membahas tentang aqidah ahlu sunnah wal jama’ah adalah al-Ibanah fii  Ushuli Ad-Diyanah, al-Luma’ fi Raddi ala Ahli al-Bida’, al-Mujaz, al-Umad fi ar-Ru’yah, Fushul fi Raddi ala al-Mulhidin dan kitab-kitab lainnya. Setelah membaca kitab-kitab karangan beliau para ulama besar di masanya berbondong-bondong menyatakan diri sebagai pengikut beliau karena mereka melihat isi kitab-kitab itu sesuai dengan keyakinan yang mereka anut dan sesuai dengan keyakinan rasulullah. Saw dan para sahabanya.
            Imam Abi Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi telah berjasa besar dalam memudahkan umat memahami dasar-dasar aqidahnya sehingga mereka berdua dinobatkan sebagai pendiri Aqidah ahsu sunnah wal jama’ah. Mereka tidak menambahkan sifat-sifat Allah dan tidak menafikan satupun dari sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam al-Qur’an dan hadis-hadis shahih, mereka hanya merumuskannya agar mudah dipelajari dan difahami oleh umat sampai akhir zaman.
            Semoga kita tetap berada dalam aqidah ahlu sunnah wal jama’ah samapai akhir hayat kita dan semoga aqidah ahlu sunnah wal jama’ah tetap tegak di Aceh sampai kiamat tiba. Aminn…

(Penulis adalah Guru Dayah Babussalam Matangkuli Aceh Utara, Anggota Tim  Penulis Buku Silabus Dayah)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar