Kamis, 21 Mei 2015

MUSTA’MAL AIR DENGAN AIR MUSTA’MAL


Ada kesan geli ketika suatu ketika saya melihat seseorang marah karena terkena percikan air bekas wudhu’ kawannya. Sambil ngomel dengan ekspresi jengkel dia membasuh pakaiannya yang terkena percikan air bekas wudhu’ temannya.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa ada sebagian orang awam (walau berijazah sarjana) yang menganggap bahwa air musta’mal itu adalah najis sehingga pakaian yang terkena percikannya wajib dibasuh.
        Di sisi lain, sangat banyak vonis hukum bahwa mandi junub tidak sah karena adanya tetesan air musta’mal yang jatuh kedalam timba ketika seseorang menimba air dari sumur. Alasannya, karena air dalam timba itu tidak sampai dua kulah dan air yang tidak sampai dua kulah akan menjadi musta’mal bila bercampur dengan air musta’mal.
        Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak sekali anggapan keliru tentang “musta’amal air dengan air musta’mal.” Sehingga menyimpulkan musta’mal satu timba air yang bercampur dengan setetes air musta’mal dan air itu tidak boleh lagi dugunakan untuk membasuh najis atau merafa’ hadas.

        Lalu sebenarnya bagaimana?
1.   Air musta’mal (bekas basuhan fardhu wudhu’ dan fardhu mandi) adalah suci tapi tidak menyucikan. (Air musta’mal bukan najis).
2.   Air mu’atamal adalah benda suci yang memiliki sifat yang sama dengan sifat-sifat air muthlaq. Bila benda suci yang memiliki sifat-sifat yang sama dengan sifat air bercampur dengan air maka dibandingkan andai yang bercampur dengan air itu adalah  benda yang memiliki sifat yang berbeda dengan sifat air misalnya warna sirup, bau kemenyan dan rasa gula. (sebenarnya dalam perbandingan cukup dengan benda yang memiliki sifat sedang tidak terlalu tajam).
Bila dalam perbandingan dapat mengubah salah satu sifat air maka air itu bukan lagi air mutlaq dan tidak sah digunakan untuk membesihkan najis atau menghilangkan hadas.
Bila dalam perbandingan tidak mengubah sifat-sifat air maka air itu masih termasuk air mutlaq dan sah digunakan untuk membersihkan najis dan menghilangkan hadas.
       
        Bila air musta’mal jatuh kedalam air yang tidak sampai dua kulah maka bandingkanlah andai yang jatuh kedalam air itu adalah sirup, apakah dengan sirup sebanyak air musta’mal itu dapat mengubah warna air tersebut?. Bila ya, air itu tidak sah digunakan untuk bersuci, bila tidak, air itu masih suci menyucikan.

        Dengan demikian bisa dipastikan air satu timba yang terjatuh setetes air musta’mal kedalamnya masih suci menyucikan bahkah sampai sepuluh tetes air musta’mal jatuh kedalamnya masih suci menyucikan Karena bila satu timba air dimasukkan sepuluh tetes sirup kedalamnya tidak ada terjadi perobahann berarti.

Lihat:
As-Said al-Bakri, Hasyiyah I’anah at-Thalibiin, dicetak bersama Fath al-Mu’in, juz, 1, (Semarang: Thaha Putra, t.t), hal. 29.
(قوله: ولو تقديريا) أي ولو كان التغير حاصلا بالفرض والتقدير لا بالحس، وهو ما يدرك بإحدى الحواس التي هي الشم والذوق والبصر، وذلك بأن يقع في الماء ما يوافقه في جميع صفاته، كماء مستعمل، أو في بعضها كماء ورد منقطع الرائحة وله لون وطعم أو أحدهما ولم يتغير الماء به، فيقدر حينئذ مخالفا وسطا، الطعم طعم الرمان واللون لون العصير والريح ريح اللاذن - بفتح الذال المعجمة - فإذا كان الواقع في الماء قدر رطل مثلا من ماء الورد الذي لا ريح له ولا طعم ولا لون، نقول: لو كان الواقع فيه قدر رطل من ماء الرمان هل يغير طعمه أم لا؟ فإن قالوا: يغيره.
انتفت الطهورية.  وإن قالوا لا يغيره. نقول: لو كان الواقع فيه قدر رطل من اللاذن هل يغير ريحه أو لا؟ فإن قالوا: يغيره. انتفت الطهورية. وإن قالوا: لا يغيره. نقول: لو كان الواقع فيه قدر رطل من عصير العنب هل يغير لونه أو لا؟ فإن قالوا: يغيره. سلبناه الطهورية. وإن قالوا: لا يغيره، فهو باق على طهوريته.
“Sekalipun perobahan itu hasil perbandingan bukan secara hissi yaitu sesuatu yang bisa diindrakan dengan salah satu indra yaitu penciuman, rasa dan penglihatan. Contohnya adalah bahwa kedalam air jatuh benda yang memiliki semua sifat-sifat yang sama dengan semua sifat-sifat  air seperti air musta’mal atau memiliki sebagian sifat yang sama dengan sebagian sifat air seperti air bunga yang telah hilang baunya sedangkan ia memiliki warna dan rasa tapi warna dan rasa itu tidak mengubah warna dan rasa air. Maka ditakdirkan seolah-olah benda yang jatuh itu adalah benda yang memiliki sifat yang berbeda dengan sifat air dengan ukuran sedang yaitu rasa delima, warna perahan anggur, dan bau buah lazan dengan fatah dzal bertitik. Apabila benda yang jatuh itu satu rithal air bunga yang tidak berbau, tidak berwarna dan tidak punya rasa kita bertanya:
        Bila yang jatuh kedalam air tersebut satu rithal air delima apakah ia dapat mengubah rasa air?
Bila ya, maka air itu tidak lagi meyucikan.
        Bila tidak, kita bertanya lagi. Bila yang jatuh kedalam air itu satu rithal buah lazan apakah dapat mengubah bau air?
        Bila ya, maka air itu tidak lagi menyucikan
        Bila tidak, kita bertanya lagi. Bila yang jatuh kedalam air itu satu rithal air perahan anggur apakah dapat mengubah warna air?
        Bila ya, maka air itu tidak lagi menyucikan.

        Bila tidak, maka air itu tetap suci menyucikan."

3 komentar:

  1. Bagaimana bila air mustakmal itu di gunakan untuk cebok !?

    BalasHapus
  2. Air musta'mal tidak sah untuk bersuci dari hadas dan juga tidak sah digunakan untuk istinjak (cebok) dan menyucikan najis.

    BalasHapus