Kamis, 21 Desember 2017

HISTORY ISLAMIC AZAN

          Azan dan iqamah merupakan syari’at dan syi’ar fenomenal dalam Islam. Azan selalu dikumandangkan di setiap menara masjid di seluruh dunia setiap kali waktu salat tiba. Setelah umat Islam berkumpul di suatu tempat dalam keadaan badan suci dari hadas kecil dan hadas besar dan suci dari najis pada badan, pakaian dan tempat, muazzin menggemakan iqamah sebagai isyarah salat berjamaah akan segera dimulai. Azan merupakan pemberitahuan bahwa waktu salat telah tiba dan panggilan untuk berkumpul di suatu tempat untuk melaksanakan salat bersama-sama (salat jama’ah).
Pada awalnya kaum muslimin di Madinah berkumpul menunggu waktu salat tanpa aba-aba. Pada suaatu malam mereka bermusyawarah untuk menetapkan isyarat tertentu yang menunjukkan tibanya waktu salat. Sebagian mengusulkan pengibaran bendera, ada yang mengusulkan terompet tapi tidak disepakati kerena menyerupai orang Yahudi, ada yang mengusulkan lonceng, juga tidak disepakati karena sama dengan orang Nashrani, ada yang mengusulkan penyalaan api, juga tidak disepakati karena mirip dengan kaum Majusi dan akhirnya disepakati usul Umar bin Khatthab yaitu seseorang berteriak dengan suara lantang mengucapkan :

الصَّلَاةُ جَامِعَةً

Lihat Zakaria al-Anshari, al-Gharar al-Bahiyyah fii syarh al-Bahjah al-Wardiyyah, juz. 1, hal. 263.

«أَنَّهُ اسْتَشَارَ النَّاسَ فَقِيلَ انْصِبْ رَايَةً وَلَمْ يُعْجِبْهُ فَذُكِرَ لَهُ الْقُنْعُ، وَهُوَ الْبُوقُ فَقَالَ هُوَ مِنْ أَمْرِ الْيَهُودِ فَذُكِرَ لَهُ النَّاقُوسُ فَقَالَ هُوَ مِنْ أَمْرِ النَّصَارَى فَقَالُوا لَوْ رَفَعْنَا نَارًا فَقَالَ ذَاكَ لِلْمَجُوسِ فَقَالَ عُمَرُ أَوَلَا تَبْعَثُونَ رَجُلًا يُنَادِي بِالصَّلَاةِ؟ فَقَالَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَا بِلَالُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلَاةِ» قَالَ النَّوَوِيُّ هَذَا النِّدَاءُ غَيْرُ الْأَذَانِ كَانَ شُرِعَ قَبْلَهُ قَالَ الْحَافِظُ حَجَرٌ هُوَ الصَّلَاةُ جَامِعَةً اه
Musyawarah ini merupakan cikal bakal lahirnya syari’at azan dan iqamah. Dalam sebuah hadis riwayat Abi Daud dijelaskan bahwa Abdullah bin Abdi Rabbih mengatakan: ketika rasulullah. Saw menyuruh kami membuat lonceng untuk mengumpulkan orang salat berjamaah saya bermimpi seseorang yang membawa lonceng di tangannya mendekati saya sehingga terjadilah dialog:

Abdullah       : Wahai hamba Allah apakah kamu mau menjual lonceng?.
Laki-laki        : untuk apa kamu membeli lonceng ini?.
Abdullah       : Untuk mengajak orang salat berjamaah.
Laki-laki        : Maukah kamu saya tunjukkan cara yang lebih baik untuk mengumpulkan orang salat berjama’ah?.
Abdullah       : Saya mau.
Laki-laki        : Mengajarkan azan dan iqamah dari awal sampai habis.

Ketika tiba waktu subuh saya menceritakan mimpi itu kepada rasulullah. Saw. Beliau bersabda in sya Allah itu adalah mimpi yang benar, carilah Bilal dan ajarilah azan itu kepadanya agar ia mengumandangkan azan itu Karena suaranya lebih kuat dan lebih indah. Saya pun menemui Bilal dan mengajarinya lalu Bilal mengumandangkan azan pertama pada subuh itu. Azan itu didengar oleh Umar bin Khatthab di rumahnya lalu bergegas pergi kemesjid dan menyatakan “demi Allah saya juga bermimpi seperti mimpinya Abdullah.” Rasullah bersabda “maka segala puji bagi Allah.”

Lihat Sulaiman bin Muhammad al-Bujairimi, Hasyiyah Al-Bujairimi ala al-Khatib, juz. 2, hal. 48.

وَالسَّبَبُ فِي مَشْرُوعِيَّتِهِ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُد بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ «عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ أَنَّهُ قَالَ: لَمَّا أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِالنَّاقُوسِ يُعْمَلُ لِيَضْرِبَ بِهِ النَّاسُ لِجَمْعِ الصَّلَوَاتِ فَطَافَ بِي وَأَنَا نَائِمٌ رَجُلٌ يَحْمِلُ نَاقُوسًا فِي يَدِهِ، فَقُلْت: يَا عَبْدَ اللَّهِ أَتَبِيعُ النَّاقُوسَ؟ فَقَالَ: وَمَا تَصْنَعُ بِهِ؟ فَقُلْت: نَدْعُو بِهِ إلَى الصَّلَاةِ فَقَالَ: أَلَا أَدُلُّك عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَك مِنْ ذَلِكَ؟ فَقُلْت: بَلَى. قَالَ: تَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ إلَى آخِرِ الْأَذَانِ ثُمَّ تَأَخَّرَ عَنِّي غَيْرَ بَعِيدٍ ثُمَّ قَالَ: وَتَقُولُ إذَا قُمْت إلَى الصَّلَاةِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ إلَى آخِرِ الْإِقَامَةِ. فَلَمَّا أَصْبَحْت أَتَيْت النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَأَخْبَرْته بِمَا رَأَيْتُهُ فَقَالَ: إنَّهَا رُؤْيَا حَقٍّ إنْ شَاءَ اللَّهُ، قُمْ إلَى بِلَالٍ فَأَعِدْ عَلَيْهِ مَا رَأَيْت فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْك» أَيْ أَرْفَعُ وَأَعْلَى، وَقِيلَ أَحْسَنُ وَأَعْذَبُ، وَقِيلَ أَبْعَدُ. «فَقُمْت مَعَ بِلَالٍ فَجَعَلْت أُلَقِّنُهُ إلَيْهِ يُؤَذِّنُ بِهِ وَكَانَ ذَلِكَ فِي الصُّبْحِ، فَسَمِعَ ذَلِكَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَهُوَ فِي بَيْتِهِ فَخَرَجَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ يَقُولُ: وَاَلَّذِي بَعَثَك بِالْحَقِّ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ مَا رَأَى فَقَالَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: فَلِلَّهِ الْحَمْدُ» فَإِنْ قِيلَ رُؤْيَةُ الْمَنَامِ لَا يَثْبُتُ بِهَا حُكْمٌ. أُجِيبَ بِأَنَّهُ لَيْسَ مُسْتَنِدًا لِأَذَانِ الرُّؤْيَا فَقَطْ بَلْ وَافَقَهَا نُزُولُ الْوَحْيِ فَقَدْ رَوَى الْبَزَّارُ «أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أُرِيَ الْأَذَانَ لَيْلَةَ الْإِسْرَاءِ، وَسَمِعَهُ مُشَاهَدَةً فَوْقَ سَبْعِ سَمَوَاتٍ، ثُمَّ قَدَّمَهُ جِبْرِيلُ قَامَ أَهْلُ السَّمَاءِ وَفِيهِمْ آدَم وَنُوحٌ عَلَيْهِمْ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ فَكَمُلَ لَهُ الشَّرَفُ عَلَى أَهْلِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ»
Referensi:
Syeikh Zainuddin, Fath al-Mu’in, dicetak bersama Hasyiyah I’anah at-Thalibiin, juz. 1, hal 390 – 391.
Sulaiman bin Muhammad al-Bujairimi, Hasyiyah Al-Bujairimi ala al-Khatib, juz. 2, hal. 48.
Imam an-Nawawi, Al-Majmu’ Syar al-Muhazab, juz. 3, hal. 81 – 82.

Zakaria al-Anshari, al-Gharar al-Bahiyyah fii syarh al-Bahjah al-Wardiyyah, juz. 1, hal. 263.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar