Sabtu, 04 April 2015

HUKUM MENERIMA PEMBERIAN DARI ORANG YANG BERHARTA SYUBHAT

hukum menerima pemberian dari orang yang ditangannya ada harta haram dan ada harta halal:
1.      Makruh menerima pemberian dari orang yang hartanya bercampur antar halal dan haram selama tidak terbukti bahwa yang diberikan itu adalah harta haram.
2.      Haram menerima pemberian yang diketahui bahwa itu adalah harta haram.

Lihat:
Al-Qulyubi, Hasyiyah al-Qulyubi, (Bairut: Daar al-Fikr, t.t), juz, 4. 263.
فَرْعٌ: لَا يَحْرُمُ الْأَكْلُ وَلَا الْمُعَامَلَةُ وَلَا أَخْذُ الصَّدَقَةِ وَالْهَدِيَّةِ مِمَّنْ أَكْثَرُ مَالِهِ حَرَامٌ إلَّا مِمَّا عُلِمَ حُرْمَتُهُ وَلَا يَخْفَى الْوَرَعُ
“Tidak haram memakan, bermu’amalah dan mengambil sedekah dan hadiah dari orang yang kebanyakan hartanya haram kecuali dari pada yang diyakini keharamannya dan tidak tersembunyilah wara’ di sini.”

Ibnu Hajar al-Haitamy, Tufhah al-Muhtaj Fii Syarh al-Minhaj, dicetak bersama Hasyiah As-Syarwani dan Hasyiyah al-Ubady, (Bairut Ihya at-Turats al-Arabi, t.t), juz, 7. Hal. 180.
(فَرْعٌ) قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ عَنْ الشَّيْخِ أَبِي حَامِدٍ وَأَقَرَّهُ يُكْرَهُ الْأَخْذُ مِمَّنْ بِيَدِهِ حَلَالٌ وَحَرَامٌ كَالسُّلْطَانِ الْجَائِرِ وَتَخْتَلِفُ الْكَرَاهَةُ بِقِلَّةِ الشُّبْهَةِ وَكَثْرَتِهَا، وَلَا يَحْرُمُ إلَّا إنْ تَيَقَّنَ أَنَّ هَذَا مِنْ الْحَرَامِ الَّذِي يُمْكِنُ مَعْرِفَةُ صَاحِبِهِ أَيْ: لِيَرُدَّهُ عَلَيْهِ، وَإِلَّا فَبَدَلَهُ
“Berkata Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ dari Syeikh Abi Hamid dan beliau mengakuinya; Dimakruhkan mengambil dari orang yang ditangannya ada harta halal dan harta haram seperti pemimpin yang dhalim dan berbedalah tingkatan makruh sesuai kadar syubhat banyak dan sedikitnya dan tidak diharamkan kecuali jika diyakini bahwa yang berikan itu adalah harta haram yang diketahui pemiliknya untuk dikembalikan ain barang kalau barang itu masih ada atau dikembalikan badalnya.”

Juga bisa dilihat dalam:
Nihayah al-Muhtaj, juz, 6. Hal. 174.
Syarh al-Muqaddimah al-Hadhramiyah, juz, 1. Hal. 537.

Fath al-Mu’in dicetak bersama Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz, 2. Hal. 241.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar