Kamis, 25 Januari 2018

MAKNA DAN MAKSUD DARI QIYAMUHU BINAFSIH

Qiyamuhu binafsih merupakan salah satu sifat yang wajib bagi Allah dan setiap mukallaf wajib mengetahuinya, wajib menanam dan membenamnya kedalam hati sehingga menjadi keyakinan yang sangat kuat dan tidak bisa berubah dengan situasi dan kondisi apapun. Keyakinan itu mesti tumbuh dari dalam lubuk hati berdasarkan argumentasi (dalil aqli) dari diri sendiri dengan ukuran dapat menghilangkan keraguan sekecil apapun didalam diri. Keyakinan semacam inilah yang disebut dengan makrifah dalam ilmu aqidah. Qiyamuhu binafsih adalah salah satu sifat yang termasuk dalam golongan sifat salbiyah (‘adami).
        Lalu apa makna dan maksud dari sifat ini?
1.   Makna
Makna atau pengertian dari qiyamuhu binafsih menurut bahasa adalah berdiri sendiri atau tidak bergantung kepada yang lain.
Sedangkan maknanya menurut istilah yang dimaksud dalam ilmu aqidah adalah “Allah tidak butuh kepada zat (mahal) dan Allah tidak butuh kepada pencipta (mukhasshish).” Dengan demikian qiyamuhu binafsih memiliki dua bagian makna untuk menghasilkan dua maksud.
a.   Allah tidak butuh kepada zat, karena wujud Allah itu zat bukan sifat. Sebuah zat tidak membutuhkan zat yang lain untuk memastikan keberadaanya. Berbeda dengan sifat ia tidak bisa wujud tanpa adanya zat sebagai mahalnya.
Maka pengertian Allah tidak butuh kepada zat adalah Wujud Allah itu zat bukan sifat.
b.   Allah tidak membutuhkan kepada pencipta, karena wujud Allah itu qidam tidak berpermulaan. Sebuah wujud tanpa awal tidak perlu pencipta yang memastikan wujudnya. Berbeda dengan wujud yang baharu (wujudnya ada permulaan) dia pasti membutuhkan kepada pencipta untuk memastikan wujudnya.
Maka pengertian Allah tidak perlu kepada pencipta adalah wujud Allah itu qidam bukan baharu.

2.   Maksud
Maksud atau tujuan dari penetapan sifat qiyamuhu binafsih adalah untuk menghilangkan (meanfikan/salab) anggapan adanya dua keadaan yang tidak layak apa pada zat Allah.
a.   Menghilangkan anggapan wujud Allah itu sifat bukan zat. Anggapan ini dihilangkan oleh makna pertama yaitu “Allah tidak butuh kepada zat.”
b.   Menghilangkan anggapan Allah baharu bukan qidam. Anggapan ini dihilangkan oleh makna kedua yaitu Allah tidak butuh kepada pencipta.

KESIMPULAN
1.   Makna qiyamuhu binafsih: Allah tidak butuh kepada zat dan Allah tidak butuh kepada pencipta.
2.   Tujuan qiyamuhu binafsih mengokohkan keyakinan wujud Allah itu zat bukan sifat dan mengokohkan keyakinan wujud Allah itu qidam tanpa permulaan.

Wallahu a’lam bisshwab

Lihat Syarh Al-Hudhudi Ala Shugra As-Sanusi, hal. 56



1 komentar: